6.820,12 Ha LAHAN KRITIS TELAH DITANAMI

0
658

BANJARBARU – Sebagai leading sector Revolusi Hijau, Dinas Kehutanan Kalsel berusaha maksimal menjalankan berbagai program dan kegiatan terbaik untuk menyukseskan salah satu visi dan misi Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq, Minggu (30/6), mengemukakan Revolusi Hijau atau Revjo adalah program untuk perbaikan kualitas lingkungan melalui penanaman lahan kritis. Dishut diberi amanah untuk menjalankan keinginan mulia itu.

“Terkait penanaman lahan kritis, dari target 32.000 hektare, pada semester pertama 2019 realisasi telah mencapai 6.820,12 hektare,” beber Hanif.

Program penanaman ini, lanjut dia, kegiatannya melibatkan seluruh lapisan masyarakat, baik perorangan maupun organisasi. Juga didukung berbagai institusi. Seperti Rehab DAS oleh IPPKH, IUPHHK HTI, IUPHHK HA, Perhutanan Sosial, RHL Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel beserta seluruh UPTD, ASN Menanam dari berbagai SKPD.

Aksi penanaman itu didukung penuh dengan penyediaan bibit melalui Balai Perbenihan Tanaman Hutan. “Hinggi kini, bibit yang telah didistribusikan untuk seluruh kegiatan sebanyak 732.830 batang. Sedangkan stok bibit yang tersedia sebanyak 833.582 bibit,” tambahnya.

Selain penanaman pohon di lahan kritis, papar Hanif, Dinas Kehutanan, sejak 2017 membangun sebuah Miniatur Hutan Hujan Tropika (MH2T). Lokasinya di Banjarbaru, dekat dengan Kompleks Perkantoran Sekdaprov Kalsel.

MH2T di lahan 90 hektare ini telah tumbuh tanaman pokok atau inti dari berbagai pohon dengan jenis asli dari rimba Kalimantan. Seperti Ulin dan Meranti. Di antara tajuk yang mulai berkembang, dilindungi tanaman peneduh (penaung).

“Jumlah tanaman yang telah menjadi tegakan sebanyak 36.372 batang,” ungkap pria suka olahraga ini.

Di kawasan ini juga telah dibangun jaringan pipanisasi untuk penyiraman dan jalan inspeksi dengan pengerasan. Sedangkan pembangunan gazebo sebanyak 5 unit, serta pembuatan gudang dan toilet, saat ini masih dalam proses pekerjaan.

“Nantinya kawasan ini bisa dinikmati warga. Melihat hutan hujan tropis tak perlu jauh. Cukup ke MH2T,” ucapnya.

Selain menjalankan aneka program untuk merehabilitasi lahan, yang menjadi prioritas Dishut Kalsel adalah pemberdayaan masyarakat di sekitar dan kawasan hutan.

Salah satunya, melaksanakan Perhutanan Sosial atau Social Forestry. Program ini merupakan sistem pengelolaan lestari yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat melalui skema hutan desa, hutan kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat, hutan adat dan kemitraan kehutanan.

“Inti perhutanan sosial adalah hutan tetap lestari dan terjaga, masyarakatnya tetap sejahtera. Saat ini beberapa program untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar dan di dalam hutan,” katanya.

Sampai semester pertama tahun 2019, kawasan hutan yang telah dikelola masyarakat melalui Perhutanan Sosial seluas 40.496,20 hektare. Ada 74 izin yang telah diterbitkan, dengan melibatkan 81 kelompok tani hutan. Dari semua izin tersebu telah beroperasional 48 Perhutanan Sosial, melibatkan 54 kelompok tani hutan.

Pemberian izin perhutanan sosial ini juga didukung dengan legalisasi penguasaan tanah dalam kawasan hutan. Ini berkaitan dengan program TORA (Tanah Objek Reformasi Agraria).

Sampai saat ini, ungkap Hanif, telah mendapatkan persetujuan pola penyelesaian dari KemenLHK seluas 2.020,71 hektare, untuk selanjutnya dilakukan perubahan batas pada enam kabupaten (Batola, Tapin, HSU, HSS, HST dan Balangan). Selqin itu seluas 596,87 hektare melalui Perhutanan Sosial pada tiga kabupaten (Tapin, HSS dan Balangan).

Sedangkan Kabupaten Banjar dan Kotabaru, sudah sampai pada tahapan rekomendasi Gubernur Kalsel dengan luasan 4.008,27 hektare untuk dilakukan perubahan batas dan seluas 17.999,97 hektare melalui Perhutanan Sosial.

Peningkatan kesejahteraan masyarakat juga terkait dengan fasilitasi bantuan sarana dan prasarana (Sarpras). “Terutama berkaitan pengelolaan hasil hutan bukan kayu (HHBK) pada kelompok tani hutan,” ujarnya.

Hanif membeberkan, sarpras yang diberikan antara lain alat pengupas kopi kering atau basah, pengolah asap cair, alat destilasi sereh wangi, dan rumah pengembangan anggrek.

Selain itu, alat pengolah tusuk sate/gigi, pengolah sirup kayu manis, pengemas beras merah, pemecah kemiri, mesin pembuat bubuk kayu manis dan setup madu kelulut , serta fasilitasi detailed engineering design (DED) lokasi wisata desa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here