KPH Balangan dan BKSDA Langsung Mengevakuasi

PARINGIN –  Seksi Perlindungan Hutan KPH Balangan, Senin (1/7), bergerak menuju Desa Pamurus Kecamatan Juai. Warga menginformasikan, telah menemukan dan mengamankan seekor anak Bekantan. Diperkirakan umurnya sekitar 15 hari.

Adalah Ilham, warga Desa Pemurus Rt 1 yang pertama kali menemukan satwa dilindungi tersebut. Ia mendapati anak Bekantan itu seorang diri di kebun miliknya, Minggu (30/6) lalu.

Setelah melaporkan ke Seksi Konservasi Dinas Kehutanan Kalsel,  KPH Balangan diarahkan untuk berkoordinasi dengan BKSDA Resor Gunung Kentawan,  untuk segera mengevakuasi anak Bekantan tersebut.

Berdasarkan pengamatan petugas BKSDA, anak Bekantan tersebut sehat dan bisa diinapkan sehari di KPH Balangan. Selanjutnya dibawa ke Banjarbaru untuk diserahkan ke BKSDA Kalsel melalui Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru.

Bekantan merupakan  spesies endemik yang mendiami hutan bakau (Mangrove) di Indonesia, Malaysia dan Brunei. Adapun di Kalimantan, satwa ini dikenal dengan nama Kera Belanda (Warik Belanda), Pika, Bahara Batangan, Raseng dan Kahau.

Pada Maret 2016,  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menetapkan Bekantan sebagai bagian dari 25 hewan yang  harus ditingkatkan populasinya,

Kasi Perlindungan Hutan KPH Balangan, Emir Faisal,  yang  terlibat langsung dalam penjemputan anak Bekantan mengatakan, jenis primata ini sekarang sedang melawan kepunahan.

“Penurunan populasinya semakin mengkhawatirkan.  Alih fungsi lahan, perburuan liar, dan kebakaran hutan adalah beberapa penyebabnya, ” kata Emir.

The Convention on International Trade in Endangered Species of  Wild Fauna and Flora (CITES), tutur Emir,  menempatkan Bekantan termasuk dalam Eppendix I atau hewan yang terancam punah. “Untuk itu kami mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat, apabila ada menemukan Bekantan atau hewan yang dilindungi lainnya, agar segera melaporkan kepada pihak terkait,” ujarnya. (fanie/kphbalangan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here