APA ITU KULTUR JARINGAN DAN APLIKASINYA PADA TANAMAN HUTAN

0
60

Pemanfaatan teknologi kultur jaringan untuk tujuan perbanyakan bibit telah diaplikasikan pada berbagai tanaman tahunan seperti jati, eukaliptus, akasia, dan lain-lain. Beberapa kelebihan dari penggunaan teknik kultur jaringan dibandingkan dengan cara konvensional adalah (1) faktor perbanyakan tinggi, (2) tidak tergantung pada musim karena lingkungan tumbuh in vitro terkendali, (3) bahan tanaman yang digunakan sedikit sehingga tidak merusak pohon induk, (4) tanaman yang dihasilkan bebas dari penyakit meskipun dari induk yang mengandung patogen internal, (5) tidak membutuhkan tempat yang sangat luas untuk menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak.

Sedangkan masalah yang banyak dihadapi dalam mengaplikasikan teknik kultur jaringan, khususnya di Indonesia adalah modal investasi awal yang cukup besar dan sumber daya manusia yang menguasai dan terampil dalam bidang kultur jaringan tanaman masih terbatas. Masalah lain yang sering muncul adalah tanaman hasil kultur jaringan sering berbeda dengan tanaman induknya atau mengalami mutasi. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan metode perbanyakan yang salah, seperti frekuensi subkultur yang terlalu tinggi, perbanyakan melalui organogenesis yang tidak langsung (melalui fase kalus) atau konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan terlalu tinggi (Mariska et al., 1992).

Teori Dasar

Jadi, secara umum pengertian kultur jaringan/budidaya jaringan/Kultur In Vitro/Tissue Culture adalah suatu teknik untuk mengisolasi sel, protoplasma, jaringan, dan organ dan menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman pada kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman sempurna.Teori Dasar Kultur Jaringan Kultur jaringan tanaman bermula dari pembuktian teori totipotensi sel yang dikemukakan oleh Schwann dan Schleiden (1838). Menurut teori ini, setiap sel tanaman hidup mempunyai informasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap untuk dapat tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh, jika kondisinya sesuai (Yusnita, 2003).

Praktik Dasar

Teknik untuk mengisolasi dan menumbuhkan bagian-bagian tanaman dimulai pada media buatan yang mengandung nutrisi dalam wadah yang tembus cahaya pada kondisi aseptik dengan lingkungan fisik yang terkendali, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman sempurna.

Tahapan dilakukan secara berurutan yaitu :
a. Tahap 0 ; memilih dan menyiapkan tanaman induk untuk eksplan, tahap ini merupakan tahap persiapan materi vegetetaif/eksplan
b. Tahap 1 ; inisiasi kultur/culture establishment atau tahap induksi
c. Tahap 2 ; multiplikasi atau perbanyakan propagul atau tahap multiplikasi
d. Tahap 3 ; menyiapkan untuk transfer propagul ke lingkungan eksternal yaitu pemanjangan tunas, induksi dan perkembangan akar (tahap perakaran)
e. Tahap 4 ; aklimatisasi plantlet ke lingkungan eksternal (tahap aklimatisasi).

Tanaman induk sebagai sumber eksplan (bagian kecil jaringan atau organ), diambil atau dipisahkan dari tanaman induk kemudian dikulturkan dalam media/lingkungan terkontrol dan steril. Kriteria tanaman induk sumber eksplan harus cukup unsur hara, telah lama mendapat penyinaran dan intensitas cahaya dan pertumbuhannya harus optimum.

Organ tumbuhan/jaringan yang dijadikan sumber eksplan harus dari tanaman yang sehat, tumbuh baik atau normal, memiliki sifat-sifat unggul.

Untuk keberhasilan kultur jaringan pada tanaman hutan dan peroleh sumber eksplan yang bersih, sebaiknya eksplan diambil dari bahan-bahan dari sumber cangkok, stek, rendaman cabang, seedling dan lain-lain. Kemudian bahan vegetatif sumber eksplan tersebut dipelihara di rumah kaca dengan isolasi dan dirawat kebersihan rumah kacanya.

Tujuan lain eksplan diambil dari bahan vegetatif yang diisolasi di rumah kaca adalah untuk meningkatkan kebersihan dan juvenilitas dari eksplan yang akan dikulturkan.

Peran Kulja Di Bidang Kehutanan

Beberapa peran kultur jaringan yang terkait dengan penyelamatan lingkungan adalah untuk membantu konservasi genetik dalam rangka menyelamatkan tanaman langka dan peran menyediakan bibit bebas virus/penyakit serta perbanyakan tanaman unggul khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif.Kaitannya terhadap penyediaan bibit bebas virus/penyakit, Morrel & Martin (1952) menemukan bahwa pada daerah meristem apikal, ternyata kandungan virusnya paling rendah bahkan tidak ada. Hal ini mungkin karena virus bergerak melalui sistem pembuluh, sedang daerah tersebut belum ada sistem pembuluhnya, selain itu aktivitas metabolisme tinggi pada daerah tersebut tidak mendukung replikasi virus.

Peran lain yaitu membantu program pemuliaan pohon untuk mendapatkan bibit unggul melalui keragaman somaklonal, kultur haploid, embryo resque, fusi protoplast ataupun transformasi/rekayasa genetik. (Eko Nur Hardanto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here