BATULICIN – Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Provinsi Kalimantan Selatan, Hanif Faisol Nurofiq meminta seluruh aparatur kehutanan, mulai dari tingkat tapak harus bisa menjadi agen perubahan. Caranya, harus bisa menggunakan media sosial (medsos) untuk membangun persepsi masyarakat tentang pembangunan kehutanan.

“Contohnya, warga Finlandia telah lama mengaktifkan akun jejaring sosialnya untuk penggunaan sehari-hari. Kita mungkin bisa dimulai dengan mengaktifkan email. Selain itu, pejabat eselon 3 dan 4 sudah harus fasih ber-online, jangan terfokus pada offline saja,” ujar dia di kediamannya Sari Gadung Tanah Bumbu Regency, Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, usai acara berbuka puasa bersama, Minggu (12/05).

Terkait dengan bidang tugas perbenihan tanaman hutan, ia memberi contoh bahwa Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Perbenihan Tanaman Hutan (UPTD BPTH) saat ini sudah menyalurkan bibit sebanyak 800 ribu lebih untuk berbagai keperluan mendukung Gerakan Revolusi Hijau, tetapi belum terkomunikasikan secara maksimal ke khalayak luas. “Hal ini harus disikapi dan ditindaklanjuti,” tegasnya.

Menurut dia, karyawan Dinas Kehutanan harus membumikan kebijakan-kebijakan yang sudah ditetapkan Pemprov Kalsel dan mampu menyebarluaskan informasi pelaksanaan pembangunan-pembangunan yang dikomandoi Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor.

“Lakukanlah inovasi sesuai potensi yang ada pada wilayah kerja masing-masing. Janji kita sebagai pejabat dan komponen pegawai di Dishut tolong dipenuhi, serta terus jaga kepercayaan dari gubernur, kadis dan masyarakat,” imbaunya.

Inovasi dimaksud, salah satunya dengan membentuk badan inovasi di tiap-tiap Kesatuan Pegelolaan Hutan (KPH), yang akan dibina oleh Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Penyuluhan dan Perhutanan Sosial (PMPPS) Dishut Kalsel.

“Pemberdayaan harus benar-benar dibangun. Bahkan dalam peta Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (RPHJP), KPH harus diwarnai dengan potensi-potensi yang telah disurvei oleh kawan-kawan di lapangan,” tandasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini hutan harus dimaknai sebagai penghasil kayu dengan komposisi 5 persen. Sedangkan 95 persennya adalah Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan Jasa Lingkungan (Jasling). Namun tidak dapat dipungkiri bahwa 95 persen HHBK dan Jasling tidak akan terbentuk tanpa pembangunan 5 persen hasil hutan kayunya.

Terkait hal itu, ia berkomitmen untuk lebih membangun komposisi HHBK dan jasling. Salah satunya, pengembangan kayu manis di KPH Kusan segera dibangun dengan skala besar. Hal ini akan berimbas pada harga pasar, dengan pengembangan skala besar akan mampu menekan harga sehingga mampu bersaing dengan produk dari luar daerah.

“Pengolahan kayu manis di luar mampu menghasilkan produk dengan harga di bawah kita. Demikian juga madu, harga di tingkat petani kita saja sudah kalah dengan harga petani di luar daerah Kalsel,” terangnya.

Meski demikian, ia terus menyuntikkan motivasi dan semangat kepada para karyawannya. “Teruslah bekerja keras dan jangan lupa beribadah,” imbuhnya.

Diketahui, arahan Kadishut Kalsel ini merupakan bagian dari acara berbuka puasa bersama dengan karyawan-karyawati Dishut Kalsel, yang dihadiri segenap pejabat eselon 3, eselon 4 dan staf KPH Kusan, KPH Pulau Laut Sebuku, KPH Cantung serta karyawan KPH Sengayam. (eko/bpth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here