ARANIO – Meski lelah, selama dua hari melakukan perjalanan bervariasi di kawasan waduk Riam Kanan dan perbukitan di dekat Desa Artain, berbuah manis. Dua jasa lingkungan (jasling) di sekitar kampung yang didatangi ternyata memukau. Riam Suliang dan Riam Bayi.

Untuk sampai ke Artain bisa ditempuh dua cara. Menggunakan kelotok menyusuri waduk Riam Kanan selama 1 jam, atau mengendarai motor roda dua dan mobil double gardan melintas di jalan berbatu TMMD Awang Bangkal.

Selasa (26/11) siang lalu, tim media info Tahura Sultan Adam yang pergi ke sana memilih jalur waduk Riam Kanan menumpang sebuah kelotok. Hiruk pikuk dan canda tawa mewarnai perjalanan. Sepanjang perjalanan disuguhkan pemandangan pulau-pulau kecil serta sisa pohon yang telah mati di tengah waduk. Meski sudah terendam puluhan tahun, tonggak pohon tetap berdiri kokoh. Di kejauhan gunung berjejer memagari kawasan danau buatan ini.

Tiba di Artain, tim menginap di salah satu rumah warga. Keesokan hari, Rabu (27/11), barulah perjalanan dimulai menuju Riam Sulingan dan Bayi. Pagi diselimuti mendung, mengiringi awal petualangan. Beberapa warga dan petugas IPPKH beserta vendor pelaksana Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai, ikut serta.

Raung knalpot motor trail dan kendaraan modifikasi warga desa membelah jalan setapak di perbukitan. Kadang menanjak, lalu turun dikecuraman. Meliuk di jalan tanah berbatu, menerabas sungai kecil dangkal. Laksana mengikuti jelajah atau touring di alam bebas.

Sekitar 30 menit, tim gabungan ini tiba di sebuah sungai beraliran deras dan penuh batu besar. Namun, karena debit air yang kurang, maklum habis kemarau dan hujan masih jarang terjadi, guguran air di batu yang curam tak terlalu elok.

“Kalau musim hujan, di Riam Sulingan ini sangat bagus. Bahkan, untuk arena arung jeram juga cocok. Arusnya deras. Sungainya jernih,” kata Nasrullah, warga Artain.

Riam Suliang ini dulunya berdekatan dengan Dusun Puliin. Namun, pada tahun 2006 terjadi banjir besar. Dusun diterjang air bah. Warga akhirnya meninggalkan kampung terpencil ini. Dusun lain yang terkena imbas fenomena alam tersebut adalah Anawit.

Tak puas, rombongan atas informasi warga yang ikut dalam perjalanan, melanjutkan ke titik berikutnya. Riam Bayi. Jaraknya cukup dekat. Hanya 10 menit dari Suliang.

Gemuruh air membahana. Jatuh dari tempat yang lebih tinggi di kontur sungai. Meliuk di sela bebatuan. Semuanya berteriak, seperti ingin mengalahkan suara deburan air di jeram. Semua melampiaskan rasa senang dan gembira.

Beberapa orang tak sabar melihat pemandangan bagus itu. Mereka langsung masuk ke derasnya air, bermain, dan menikmati kesegaran yang dipersembahkan alam. “Tubuh terasa dipijat-pihak saat diterjang aliran air. Asyik sekali. Rasa yang tak pernah didapatkan jika kita berada di kota,” celutuk Juzen, salah seorang dari IPPKH PT Borneo Indobara.

Kepala Desa Artain, Asmadi menuturkan Riam Suliang dan Bayi adalah sebagian dari jasa lingkungan yang bisa dikembangkan di wilayah Artain. Selain dekat dengan permukiman penduduk, akses menuju lokasi sangat mudah.

Pembakal yang energik ini berharap, ke depan, dua jasa lingkungan di desanya itu bisa dikembangkan dan dipromosikan. Agar wisatawan berkunjung ke sana. Sehingga memberi efek terhadap peningkatan ekonomi warga.

Kepala Tahura Sultan Adam, Rahmad Riansyah berkomitmen akan mengenalkan jasa lingkungan di Artain melalui media info dan media sosial lainnya. “Sekarang desa-desa di wilayah kawasan Tahura Sultan Adam, khususnya di kecamatan Aranio sudah banyak bermunculan jasa lingkungan yang patut dikembangkan. Nantinya masing masing desa akan ada jasa lingkungan unggulan,” katanya.

Ia meminta kepada semua kepala desa agar segera membentuk kelembagaan dalam pengelolaan jasa lingkungan yang berbasis kawasan hutan konservasi. (zani/tahura)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here