Bambu, Alternatif Jitu Untuk Konservasi DAS

0
85

Lajunya degradasi lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) di hulu dan hilir berdampak pada tidak stabilnya tatanan siklus hidrologi.  Hal ini menyebabkan perbedaan kondisi alam yang signifikan  pada tiap musimnya.  Apabila musim hujan sering terjadi banjir dan bila musim kemarau terjadi krisis air.

Konservasi lahan dengan cara revegetasi tanaman berkayu di daerah – daerah kritis sudah dilakukan.  Dampaknya memang terlihat, namun dalam pertumbuhannya memakan waktu yang tidak sebentar.  Serta tidak semua jenis tanaman berkayu bisa tumbuh baik pada semua jenis dan kondisi tanah.  Suryatmojo, 2017 dalam blog bertemakan Hutan Bambu sebagai Alternatif konservasi DAS menyatakan bahwa bambu dapat diunggulkan untuk mengurangi permasalahan deforestasi karena cepatnya pertumbuhan bambu dibanding dengan pohon kayu sehingga bisa menjadi Alternatif konservasi DAS.

Bahkan menurut Pakar Bambu Indonesia, sekaligus Peneliti di Pusat Penelitian Bogor – LIPI, Prof Elizabeth A Widjaja, yang dimuat dalam media Republika Online pada tanggal 22 Mei 2013, menyebutkan bahwa dampak hutan bambu terhadap lingkungan sangat berguna selain untuk konservasi tanah dan rehabilitasi lahan yang terdegradasi, juga sebagai filter air dan konservasi air.  Pernyataan ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian, antara lain:

  • Penelitian INBAR di India mengatakan bahwa permukaan air tanah dalam waktu empat tahun naik dari 40 m menjadi 33.7 m
  • Hasil studi Akademi Kehutanan Beijing (1998) melakukan studi banding antara hutan pinus dan bambu pada beberapa DAS di China, mendapatkan bahwa hutan bambu mampu menambah 240 % air bawah tanah lebih besar dibanding hutan pinus
  • Utthan Centre, LSM di India, tahun 2004 melakukan penanaman hutan bambu seluas 106 ha pada bekas penambangan batu, dan dalam jangka waktu 4 tahun permukaan air bawah tanah meningkat 6,3 meter.

Mengapa alternatifnya Bambu ?

Menurut beberapa sumber, ada banyak sifat dan manfaat bambu yang membuat tanaman ini menjadi pilihan yang tepat untuk konservasi DAS, yaitu :

  • Tumbuh pada semua jenis tanah dengan pH 5.6 – 6.5, dataran rendah hingga tinggi 1.500 m dpl, iklim tipe A hingga C dan kelembaban udara ± 80 %, namun dapat juga tumbuh di lahan sangat kering dengan tipe iklim D, seperti di Nusa Tenggara Timur (jenis tanaman perintis )
  • Pertumbuhan yang sangat cepat dan tidak memerlukan perawatan khusus ( dari hasil beberapa penelitian, kecepatan pertumbuhan vegetatif bambu dalam 24 jam berkisar 30 cm – 120 cm tergantung dari jenisnya )
  • Memiliki umur yang panjang, mencapai 30 – 100 tahun tergantung jenisnya dan umur 3 – 5 tahun dapat dipanen sepanjang tahun tanpa merusak rumpun
  • Sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat, sangat rapat dan menyebar ke segala arah dan terkait secara horizontal dan vertical sehingga tidak mudah putus, tahan terhadap terpaan angin kencang dan mampu berdiri kokoh untuk menahan erosi dan tanah longsor di sekitarnya
  • Memiliki toleransi tinggi terhadap gangguan alam dan kebakaran
  • Memiliki kemampuan peredam suara yang baik dan penghasil oksigen yang banyak (35 %) sehingga dapat ditanam di daerah pemukiman atau jalan raya
  • Dapat memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik, sehingga mampu meningkatkan water storage ( cadangan air bawah tanah )
  • Lahan di bawah tegakan bambu sangat stabil dan mudah meresapkan air karena rumpun bambu dan serasah di bawahnya mampu menahan top soil agar tidak hanyut tergerus run off air hujan sehingga mampu menjaga ekosistem tanah
  • Jika bambu ditanam berderet menyerupai teras pada sebuah lereng dan membentuk sabuk gunung, maka akar bambu akan saling mengikat antar rumpun dan menghasilkan kekuatan yang sangat luar biasa

Bahkan bambu juga memiliki nilai ekonomis dan sosial budaya di masyarakat. (Risna Milawaty, S. Hut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here