Bakal Diterapkan di MH2T Banjarbaru

BOGOR – Meranti (Shorea Spp.), tanaman endemik Pulau Kalimantan dan Sumatera, ternyata bisa tumbuh baik di Pulau Jawa. Ini dibuktikan pada tanaman meranti di Hutan Penelitian kita di Gunung Dahu, Leuwiliang, Bogor.

Fakta itu diungkapkan Dr Henty Hendalastuti, Project Koordinator Komatsu – FORDA, saat memaparkan keberhasilan penanaman eksperimen project-nya kepada empat orang staf Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, dalam kunjungan ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Pusat Litbang Hutan), Jalan Gunung Batu, Bogor, Rabu (29/5).

Henty didampingi Dr Atok Subiyakto, Peneliti Silvikultur Senior, bahkan mengatakan, merujuk hasil penanaman di lapangan, ada jenis Shorea leprosula (meranti merah) yang mencapai diameter 60 cm. “Hasil ini didapat setelah menunggu sekitar 19 tahun lamanya. Ya, penanaman dilakukan sejak tahun 1996,” ujarnya.

Hal ini disampaikannya, mengingat selama ini Shorea yang merupakan salah satu marga penghasil kayu-kayu Dipterokarpa, terus dieksploitasi dari hutan alam. Baik di Sumatera, Sulawesi, Maluku maupun Kalimantan. Permintaaan tiap tahun selalu naik dengan rata-rata 14 persen per tahun, sehingga mengancam kelestarian Shorea di hutan alam.

Menjawab persoalan itu, dijelaskannya lagi, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Pusat Litbang Hutan Bogor, bekerja sama dengan Komatsu Jepang, telah melakukan uji penanaman stek pucuk meranti di Gunung Dahu seluas 250 hektare.

“Kerja sama ini bertujuan mencari alternatif pengadaan bibit untuk jenis-jenis Dipterokarpa. Hasilnya, yaitu paket teknologi Komatsu-FORDA Fog Cooling System (KOFFCO). Teknologi ini adalah teknik vegetatif untuk memperbanyak jenis pohon hutan dengan teknik stek pucuk secara massal,” terang Henty.

Secara garis besar, teknik ini mengatur kondisi optimal untuk proses pembentukan akar stek. Yaitu ; (1) cahaya sekitar 5.000-20.000 lux, (2) kelembaban > 95%, (3) temperatur < 300 C, dan (4) media yang higienis, poros dan dapat mengikat air. Sistem ini mudah dioperasikan oleh teknisi persemaian dengan tingkat pendidikan formal setara SMU.

Henty menambahkan, sarana dan peralatan utama yang diperlukan untuk beroperasinya KOFFCO sistem adalah rumah kaca, shading net, pompa air, nozel dan sungkup propagasi.

“KOFFCO sistem sangat sesuai untuk memproduksi bibit jenis-jenis Dipterokarpa dan jenis pohon indigenous (jenis lokal) lainnya secara vegetatif. Sehingga dapat mengatasi kelangkaan bibit pada masa tidak berbuah. Di samping itu, teknik ini sangat ideal dalam memasuki era perhutanan klonal, dimana klon-klon unggul diperbanyak secara massal dan digunakan dalam pembangunan hutan tanaman,” tuturnya.

Senada dengan Henty, Atok mengatakan bahwa hasil di lapangan menunjukkan bahwa pertumbuhan Shorea hasil teknologi KOFFCO dengan bibit alam, hampir sama atau tidak signifikan. Rata-rata menghasilkan riap 1,6 m3/tahun. “Harapan kami, ke depan bisa mencapai 2 m3/tahun,” katanya.

Selain perbanyakan stek pucuk, Pusat Litbang Hutan juga mengembangkan teknik perbanyakan dari hasil cabutan (anakan). Teknik ini didahului dengan mengirimkan tim eksplorasi ke berbagai daerah di Indonesia.

Henty kembali menjelaskan teknik pengepakan bibit cabutan yang baik, hingga bisa bertahan selama proses pengiriman ke pembibitan di Bogor.

A Raihanor, Kepala Seksi Sertifikasi Benih Tanaman Hutan yang membawa tiga orang staf merasa takjub atas hasil penelitian yang telah dicapai. “Riap lebih dari 1,6 m3/tahun untuk Dipterokarpa adalah tinggi,” katanya.

Harapannya, teknologi ini bisa diterapkan di areal Miniatur Hutan Hujan Tropika (MH2T) yang notabene merupakan areal penanaman jenis-jenis meranti dan ulin.

“Berkaca hari hasil Hutan Penelitian Gunung Dahu itu, kita optimis dapat di aplikasikan di MH2T. Tentunya, setelah mendapat restu dari pimpinan kita, Kepala Dinas Kehutanan, Hanif Faisol Nurofiq,” tandasnya.

Yang menggembirakan, baik Henty maupun Atok, menyataka. Kesediaan mereka untuk melakukan asistensi ke areal MH2T. Juli 2019 mendatang, keduanya akan ke Kalsel.

Terakhir, kunjungan ditutup dengan tinjau lapang ke rumah kaca dan shaded area Pusat Litbang Hutan. Kegiatan ini didampingi oleh Wahyu, koordinator lapangan.

Pada sesi ini, ia menjelaskan teknik pembuatan stek pucuk KOFFCO Sistem di rumah kaca. Mulai dari persiapan media cocopeat dan sekam (perbandingan 2 : 1), penanaman stek di potray, sungkup propagasi dan teknik pengembunan (pengaturan kelembaban, temperatur), hingga tahap aklimatisasi (pengaturan cahaya). Tak lupa, teknik perlakuan anakan cabutan saat eksplorasi di lapangan, turut diperagakan. Lalu, cara packing anakan hasil cabutan agar bisa bertahan hingga 14 hari sampai disemai kembali. (eko/bpth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here