ARANIO – Cerahnya matahari secerah wajah warga Desa Tiwingan Lama Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar. Senin (25/11), kampung mereka diresmikan menjadi desa wisata. Sehari sebelumnya, warga bergotong royong. Bahu membahu mempersiapkan pelaksanaan launching. Senyum, tawa, dan canda, renyah terdengar.

Saat peresmian tiba, tari Ahui dipersembahkan untuk menyambut para tamu dan undangan yang hadir. Gemulai gerakan penari sedap dinikmati, ditingkahi alunan musik akustik menembangkan lagu-lagu Banjar.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Dahnial Kifli mengatakan Tiwingan Lama adalah salah satu desa di Aranio Kabupaten Banjar yang diresmikan menjadi desa wisata, selain Belangian dan Haratai Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Ia berharap warga Tiwingan lama memoles lagi objek wisata andalan yang ada. “Dan harus siap menyambut para wisatawan dengan mengacu pada sapta pesona,” kata Dahnial.

Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor diwakili Asisten II Pemprov Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana mengucapkan selamat kepada Tiwingan Lama yang kini menjadi salah satu desa wisata di Banua. Ia meminta semua pihak tidak berpuas diri. “Semangat bersaing dalam memajukan wisata harus terus berkobar. Sehingga wisatawan akan banyak berkunjung,” ujarnya.

Kepala Desa Tiwingan Lama, Arbani di sela acara mengaku bangga desanya menyandang status desa wisata. Kebahagian dan kegembiraan juga dirasakan warga. “Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung desa kami menjadi desa wisata,” ucapnya.

Arbani berjanji berupaya menjaga dan mempercantik desa wisata ini sehingga menambah daya tarik wisatawan untuk datang. Promosi dan pelayanan yang ramah, tentunya wajib diperhatikan.

Peresmian tak berakhir di Tiwingan Lama. Kelar acara di sana, dilanjutkan ke Belangian. Desa yang juga kini menyandang status sebagai desa wisata. Sekitar pukul 11.30, deru tiga mesin kelotok milik Dinas Kehutanan Kalsel beranjak meninggalkan pelabuhan Tiwingan Lama. Mengantar para pejabat dan tamu acara launching di Belangian.

Sekitar satu jam perjalanan di danau Riam Kanan, kelotok harus berhenti. Debit air waduk saat itu sedang surut, sehingga kelotok tak bisa merapat ke pelabuhan desa. Rombongan kemudian dibonceng satu persatu menggunakan motor trail. Beberapa menit menyusur jalan di tepi danau, tiba-tiba hujan turun. Setelah 15 menit berbasah-basah, mereka akhirnya tiba juga di Belangian.

Menunggu curahan air dari langit reda, acara dimulai. Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang. Semua berdiri dan ikut bernyanyi, disusul mars Bergerak ciptaan Paman Birin. Para tamu dan undangan kemudian disuguhi atraksi pencak silat dan joget kreasi anak-anak Belangian. Tepuk tangan bergemuruh menyambut penampilan itu.

Dahnial Kifli menuturkan, Belangian kini sudah banyak perubahan. Desa wisata ini memiliki fasilitas yang cukup mumpuni. Trek dari kampung menuju air terjun di Lembah Kahung nyaman dilintasi. Karena jalan sudah dilapis cor beton dan paving block.

“Jika dulu untuk sampai ke air terjun perlu waktu 6 jam, sekarang sudah bisa ditempuh 3 jam saja. Ini luar biasa. Ini tak luput dari kerja sama semua pihak yang saling bersinergi untuk memajukan pariwisata. Semoga semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke sini,” jelas Dahnial.

Sebagai tanda seremoni peluncuran desa wisata di Belangian, pentungan serentak dipukul oleh Gubernur Kalsel diwakili Asisten II, Kadis Pariwisata, Kadis Kehutanan, dan Camat Aranio.

Sekretaris Desa Wisata Belangian, Ida Fitria mewakili warga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, utamanya Dinas Kehutanan dan Pariwisata Kalsel yang selalu mendukung warga untuk memajukan desa. “Tanpa adanya binaan dan bantuan semua pihak, desa kami tidak mungkin bisa seperti ini, ” ujar bu Sekdes (panggilan akrabnya). (zani/tahura)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here