GUA RANUAN, KEINDAHAN MISTERIUS DALAM KEGELAPAN

0
33

Gua Ranuan terletak di kaki Gunung Ranuan.  Salah satu gunung yang terdapat di Desa Haratai Kecamatan Loksado.  Untuk menuju Desa Haratai, kita hanya bisa menggunakan kendaraan roda 2 dengan waktu tempuh kurang lebih setengah jam dari Desa Loksado, pusat pemerintahan di Kecamatan Loksado.  Sedangkan untuk sampai ke Desa Loksado, kita bisa menggunakan  berbagai angkutan darat dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam dari Kandangan, ibukota Kab. Hulu Sungai Selatan.  Sebuah gua dengan aliran arus sungai yang deras dan satu – satunya lubang cahaya alami hanya yang berasal dari mulut gua.  Iyaa, sebuah gua yang benar – benar gelap, namun dengan bantuan cahaya lampu sentar maka akan menunjukkan keindahannya yang misterius.  Konon katanya, gua ini sering digunakan sebagai tempat bersemedi orang – orang dahulu kala.

Untuk orang umum seperti kami, jalur menuju gua termasuk jalur yang menantang.  Bagaimana tidak menantang, dari start trekking di areal Air Terjun Haratai, jalannya sudah menanjak dan terus menanjak.  Karena memang satu – satunya jalan yang biasa dilalui menuju gua ini adalah dengan mendaki Gunung Tebing Antai, gunung yang berada di sisi Air Terjun Haratai.  Namun lelahnya mendaki selalu bisa terbayarkan dengan sambil menikmati keindahan alamnya, menatap puncak Gunung Ranuan dan Gunung Ambakung, menyaksikan hamparan si pucuk merah pohon Kayu Manis, ataupun bermain – main di aliran anak sungai ataupun mata air yang selalu bisa dijumpai di sepanjang jalannya.

 

Sekali dua kita memang harus berjalan di bebatuan di atas aliran sungai yang dingin.  Dan kitapun harus melewati  kurang lebih 6 jembatan yang amat sangat sederhana, hanya terbuat dari batangan bambu yang disusun sejajar dan disangga oleh tiang – tiang bambu pula ataupun batang – batang kayu berdiameter kecil.  Kadang terdengar suara bambu yang berderit bergesekan ketika kita injak.  Menambah perjalanan kita menjadi semakin penuh tantangan.

Selama perjalanan, akan ditemui area – area tertentu yang nampaknya sering menjadi tempat istirahat para pejalan kaki, baik para pengunjung maupun masyarakat setempat yang memiliki kebun di sekitar area ini.  Akan tampak pula, bibit – bibit pohon Kayu Manis yang ditanam pekebun.  Sungguh suatu kearifan lokal yang patut diacungi jempol,  karena mereka tau dan sadar, hidup mereka bergantung dari alam dan karenanya mereka harus tetap menjaga alam, salah satunya dengan menanam pohon – pohon penyangga kehidupan mereka.

Setelah perjalanan kurang lebih 1,5 jam, sampailah kami di mulut Gua Ranuan.  Tempat masuk ke gua ada 2 lubang bersebelahan, namun yang terdekat adalah mulut gua yang tersempit.  Begitu masuk, kita langsung disambut dengan dinginnya air serta derasnya aliran sungai dalam gua.  Dengan bantuan lampu sentar, maka akan tampak jernihnya air sungai, stalaktit yang menggantung dengan tetesan air di ujungnya, stalakmit yang memiliki aneka bentuk yang indah, dan juga bentukan kolom yang mempesona.   Menurut guide kami, panjang gua belum diketahui pasti karena belum ada yang benar – benar sampai ke ujung gua sisi lainnya.  Namun mereka mengatakan, kemungkinan besar bisa memakan waktu hingga setengah hari untuk bisa sampai kesana.  Ditambah lorong gua yang mengerucut pada ujung tersebut.  Aliran sungai di gua tidak terpengaruh banyak dengan kondisi pasang surutnya air.  Namun kadang, bila datang hujan deras, debit air dalam gua juga bisa menaik. 

Untuk melakukan penelusuran gua ini, disarankan datang berkelompok mengingat kita berjalan melawan derasnya arus sungai, tidak berkunjung pada saat musim penghujan, selalu mengutamakan keselamatan dan etika berkunjung,  gunakan guide setempat yang lebih mengetahui medan dan kondisi gua, tetap menjaga kebersihan dan menggunakan fasilitas alam secukupnya. Ingatlah, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan mengambil apapun kecuali foto dan jangan membunuh apapun kecuali waktu.  

(Risna Milawaty, S. Hut )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here