Pohon akasia sangat mudah berkembang. Ketika akasia berbiji dan berbunga, maka serbuknya mudah terbang ke mana-mana. Inilah yang menyebabkan populasi akasia cepat sekali membesar. Jika tak segera diambil langkah pencegahan, eksistensi pepohonan lain di Miniatur Hutan Hujan Tropika akan terancam. Apalagi akasia memiliki zat alelopati yang menyebabkan tanah di sekitarnya jadi kering dan beracun. Alhasil, tanaman-tanaman di sekitar akasia bisa mati.

Alasan tersebut dikemukakan oleh Manager MH2T, Abdul Majid, saat memimpin giat penebangan pepohonan akasia di sekitar areal MH2T, kawasan perkantoran Setda Prov. Kalsel Jl. Abdi Praja Banjarbaru, Rabu (25/04).

“Ini pula yang disebut amensalisme, yaitu interaksi antara dua atau lebih spesies yang berakibat salah satu pihak dirugikan, sedangkan pihak lainnya tidak terpengaruh yaitu tidak rugi dan tidak untung oleh adanya asosiasi”, terang Majid. Dalam penjelasannya, ia menuturkan pada areal MH2T, pihak yang dirugikan tentu saja jenis-jenis tanaman pokok (inti) maupun penaungnya. “Jadi dalam konteks MH2T, pohon akasia bisa dianggap hama”, tegasnya.

Dikutip dari laman http://digilib.unila.ac.id, pada kebanyakan kasus, organisme yang dirugikan disebabkan oleh bahan kimia yang dikenal sebagai allelopathy (Indriyanto, 2006).

Dikemukakan oleh Djufri (2012) bahwa rendahnya jumlah spesies yang hidup dibawah tegakan Acacia mangium dibandingkan dengan daerah terbuka kemungkinan disebabkan adanya pengaruh zat alelopati yang dikeluarkan oleh Acacia mangium yang menyebabkan lingkungan sekitarnya mengalami perubahan dan bersifat racun bagi tumbuhan lainnya.

Kerugian dengan adanya amensalisme ini yaitu dapat menghambat penyerapan hara, menghambat pembelahan sel-sel akar tumbuhan, memengaruhi perbesaran sel tumbuhan, menghambat respirasi akar, menghambat sintesis protein, menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan serta menghambat aktivitas enzim (Djafaruddin, 2004).

Menurut Junaedi, dkk., (2006) melaporkan tanaman berkayu yang bersifat alelopati antara lain Acacia spp., Albizzia lebbeck, Eucalyptus spp., Grewia optiva, Glyricidia sepium, Leucaena leucocephala, Moringa oleifera, Populus delfoides, Abies balsamea, Picea mariana, Pinus divaricata, dan Thuja occidentalis.

Pernyataan Majid tersebut, senada dengan arahan Kadishut Prov. Kalsel, Hanif Faisol pada saat inspeksi lapangan di areal MH2T di sore hari sebelumnya. Ia perintahkan agar pepohonan yang dianggap pengganggu untuk dilakukan pembersihan selain antisipasi bahaya kebakaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here