Gambar berikut hanyalah sebuah illustrasi

Setiap tanggal 27 Juli diperingati sebagai Hari Sungai Nasional. Begitupun di tahun 2019. Momentum untuk mengingatkan bahwa infrastruktur alam ini  mempunyai fungsi vital yang strategis untuk kemaslahatan manusia. Rusak sungai, maka hancur pula tatanan ekosistem dan lingkungan.

Sungai secara utuh melingkupi areal yang tinggi di hulu, sedang di  hilir, hingga kawasan rendah. Mengalir, akhirnya  ke laut. Secara keseluruhan lazim disebut Daerah Aliran Sungai (DAS). Rutinitas hidrologi ini secara alamiah terus berlangsung, tak pernah berhenti.

Air hujan yang dapat mencapai permukaan tanah, sebagian akan terserap ke dalam tanah.  Sedangkan air yang tidak terserap  akan tertampung sementara dalam cekungan-cekungan permukaan tanah.  Untuk kemudian mengalir di atas permukaan tanah ke tempat yang lebih rendah,  hingga ke sungai.

Mari kita membayangkan. Bagaimana jika di bantaran sungai  di lembah dan lereng-lereng pegunungan,  terbuka. Tanpa tutupan kanopi pohon. Tak ada akar yang mengikat tanah. Bukankah air yang tercurah dari hujan menjadi bebas hambatan. Meluncur dari tempat yang tinggi, berkumpul di sungai, menciptakan gemuruh arus berlimpah. Lalu, dihempaskan ke daerah yang rendah. Longsor dan banjir adalah keniscayaan dampak yang terjadi.

Sebab itu, sungai dan kumpulan pohon (hutan) adalah saudara  sejati yang tak bisa dipisahkan. Saling ketergantungan. Hilang hutan, rusak sungainya.  Bencanalah temannya.

Fakta menunjukkan, bencana  banjir dan tanah longsor terjadi  berawal dari rusaknya ekosistem dan berubahnya fungsi ekologi  hutan di hulu DAS. Akibat deforestasi dan aktivitas tak bijak dalam pengelolaan hutan.

Maka, marilah memaknai momentum Hari Sungai 2019  dengan tekad kuat. Untuk menjaga kelestarian hutan alam yang tersisa. Merehabilitasi kawasan-kawasan yang terlanjur terbuka (kritis). Menciptakan kawasan-kawasan hijau baru, dengan menanam pohon.

Di Kalsel, embrio gerakan untuk memulihkan lingkungan itu sudah  dicanangkan. Namanya Revolusi Hijau. Digagas oleh Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor sejak tahun 2017 lalu. Ratusan ribu pohon sudah ditanam. Puluhan ribu hektare lahan kritis dihijaukan. DAS direhabilitasi.  Seluruh masyarakat diajak dan terlibat dalam aksi nyata ini.

Harapannya, hutan kita kembali tegak. Sehingga DAS yang ada di Banua berfungsi dengan baik. Selamat Hari Sungai 2019. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here