JERNANG (Daemonorops sp)

0
30

Jernang merupakan tanaman jenis rotan dari genus Daemonorops sp. Menurut  dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, diketahui jika Jernang hanya terdapat di 3 (tiga) Negara di Dunia yaitu Indonesia, Malaysia dan India dan yang terbesar adalah di Indonesia. Di Indonesia Jernang banyak terdapat di Daerah Jambi, Aceh dan Kalimantan.

Jika pemanfaatan rotan pada umumnya dari batangnya maka pemanfaatan pada jernang adalah dari resin yang terdapat pada buahnya. Komponen utama dari resin jernang adalah draco resinolanol (56%), draco resen (11%), draco alban (2,5%), asam benzoat dan asam bensolaktat. Kegunaan utama dari jernang adalah sebagai pewarna Vernis, Keramik, Marmer, alat dari batu, Kayu rotan, Bambu, Kertas, Cat, sebagai bahan Farmasi (obat diare, disentri, pembeku darah karena luka). Jernang merupakan bahan baku yang di ekspor untuk industri-industri di Negara China, Singapura dan Hongkong.

Menurut data dari Atase Perdagangan Negara RRC, RRC membutuhkan 400 ton jernang tiap tahunnya dan Indonesia baru mampu mengekspor kurang dari 27 ton per tahun.

Perdagangan jernang sendiri bukanlah hal yang baru karena produk ini telah di perdagangkan sejak zaman Jepang dahulu. Pada tahun 1950 an jernang telah memiliki harga Rp 50,- Per Kg dan sekarang harganya mencapai Rp 700.000. Bahkan tahun 2005 kemarin harga jernang pernah mencapai Rp 1,200,000,- per Kg. Jika pada tahun 2000 harga jernang sekitar Rp 300.000 per Kg dan di tahun 2005 mencapai Rp 1.200.000,- per Kg maka dalam waktu 5 tahun harga jernang naik 4 kali lipat.

Budidaya jernang sendiri dapat dilakukan dengan melakukan pembibitan melalui biji dan anakan yang dibawa dari dalam hutan. Estimasi keuntungan pertahun dari 1 Ha kebun sawit adalah 13-17 Juta Rupiah dan 20-23 juta untuk 1 Ha karet. Sedangkan estimasi keuntungan yang diperoleh dari 1 Ha jernang pertahun adalah 35-38 juta rupiah.

Keuntungan lain dari upaya berkebun jernang adalah jernang dapat ditumpang sarikan penanamannya dengan tanaman karet atau tanaman hutan lainnya seperti meranti, mahoni.

Sebagai Tanaman tumpang sari,  Jernang memberi manfaat dan kemudahan yang dapat diperoleh dari pola tumpang sari ini yaitu:

  1. Petani dapat memperoleh 2 (dua) keuntungan sekaligus yaitu dari hasil produksi getah karet dan hasil produksi resin jernang.
  2. Tanaman jernang tidak membunuh batang karet seperti pada rotan manau karena jernang memiliki batang yang lebih kecil dan tumbuh dengan lurus tegak ke atas.
  3. Tanaman jernang sangat sulit dan riskan pertumbuhannya sehingga membutuhkan pemeliharaan yang ekstra. Melalui pola tumpang sari dengan karet, pertumbuhan tanaman jernang dapat diawasi pertumbuhannya secara intensi sambil melakukan kegiatan penyadapan.
  4. Keberlanjutan. Tanaman jernag adalah jenis tanaman tua dimana usia satu batang jernang dapat berumur 25-30 tahun. Selain itu dalam satu rumpun jernang yang telah berusia 10 tahun ke atas telah memiliki anakan sekitar 10-15 batang dan ini terus berlanjut hingga pernah ditemukan dalam satu rumpun terdapat 30-40 batang.

Tumpang sari akan menjadi strarting point dalam melestarikan tanaman jernang yang telah langka dan peningkatan kesejahteraan perekonomian masyarakat. Sistem tumpangsari jernang dengan berbagai tanaman hutan (karet, meranti, mahoni), sudah dilakukan oleh Kelompok Tani Hutan, di Desa Hinas Kiri Kec. Batang Alai Timur Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang merupakan  wilayah Kerja KPH.Hulu Sungai.

Dari uraian diatas budidaya jernang dengan pola tumpang sari pada kebun karet rakyat  atau tanaman hutan lainnya merupakan konsep yang berdimensi ekologis dan ekonomis, yang patut dipertimbangkan, dalam kegiatan Perhutanan Sosial, maupun Hutan Rakyat. (Ir.M.Yusri / Kph.HS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here