KERAJINAN ANYAMAN SIMPAI YANG HAMPIR PUNAH

0
25

Kerajinan anyaman simpai sudah menjadi sebuah budaya bagi masyarakat Kalimantan, kebiasaan-kebiasaan yang turun menurun dengan hasil karya yang luar biasa seperti baju adat, senjata tradisional dan lain sebagainya. Kalimantan pulau yang didominasi oleh suku Dayak dengan hasil alam yang sangat berlimpah ruah menjadikan keunikan hasil karya yang dimiliki masyarakat Dayak. Pemanfaatan hasil alam bukan kayu menjadi hal yang manis untuk digunakan dan tak lekang oleh waktu, bahkan di era milenial saat ini masih dan bahkan semakin banyak peminat hasil karya ini.

RPH Batang Alai melakukan inventarisasi potensi kerajinan simpai di Desa Panggung RT. 01 Kecamatan Haruyan, di dapati para pengrajin simpai lebih dari 20 orang pemuda dan pelajar yang sudah tergabung dalam Komunitas Pecinta Simpai “SIMPAI MERATUS” yang di Ketuai oleh Ramidi dari Kiu Desa Hinas Kiri. Anggota Komunitas ini tersebar diseluruh Kabupaten di Kalimantan Selatan, terutama Kabupaten di pinggiran pegunungan meratus. Komunitas ini terbentuk berdasarkan kesepakatan bersama dan belum ada kekuatan secara hukum.Khusus Desa Panggung Kecamatan Haruyan, anggota Simpai Meratus ini sehari-harinya beraktivitas di Sanggar Kerajinan Pandawa Desa Panggung untuk melayani pelanggan yang datang, bahan dasar pembuatan simpai adalah Lang’am (Jangang) dan rotan yng diambil dari daerah Lok Laga, Hamak dan desa lain dikaki pegunungan meratus. Proses pembuatan bahan baku sampai siap anyam membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari.

Menurut Atul salah seorang pengrajin, ketrampilannya diperoleh dari salah seorang suku dayak dari Kalimantan Timur dan dilanjutkan secara autodidak, saat ini beberapa anggota yang sudah sangat mahir setiap hari menjual hasil karyanya di Menara Tebing Siring Banjarmasin baik kepada wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Barang kerajinan meraka bukan hanya berupa simpai/gelang tetapi juga berupa tas, anjat, topi, butah, dan lain-lain. Hasil kerajinan ini dipajang di Menara tebing Siring Banjarmasin, ketrampilan sejenis ini sudah sangat jarang ada di masyarakat dayak sehingga dikuatirkan lambat laun akan punah. Oleh karena itu mereka berupaya untuk mengajarkan kembali ketrampilan ini kepada masyarakat asli dayak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here