MENGENAL POHON KAYU ULIN “SI LANGKA” YANG HAMPIR PUNAH

0
89

Potensi sumberdaya alam hayati yang dimiliki negeri kita sangat kaya dan beragam jenisnya, baik flora maupun faunanya. Salah satu jenis flora yang kita miliki yang mempunyai nilai ekonomis sangat tinggi adalah tanaman kayu ulin yang merupakan tanaman asli Indonesia. Tanaman kayu ulin dalam bahasa latinnya (Eusideroxylon zwageri)  merupakan salah satu jenis tanaman hutan tropika basah yang tumbuh alami,  penyebarannya di Sumatera bagian Selatan,Kalimantan, Malaysia dan beberapa pulau di Filipina. Tanaman kayu ulin ini dikenal dengan nama daerah bulian, onglen, tabulin, telion.

Kayu ulin biasanya tumbuh terpencar atau mengelompok dihutan campuran. Pohon kayu ulin dijuluki sebagai salah satu jenis kayu indah dan paling awet di dunia serta masuk ke dalam 260 spesies pohon penghasil kayu-kayu perdagangan di Indonesia. Tumbuhan ini sudah lama dikenal memiliki mutu yang tinggi, terutama kekuatan dan ketahanan kayunya terhadap berbagai kondisi alam, pelapukan dan serangan organisme perusak kayu.

Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang mencapai ketinggian 50 m dengan diameter mencapai 120 cm. Panjang bebas cabang 5-20 m, kulitnya berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat tua atau coklat kelabu. Pohon kayu ulin memiliki berat jenis 1,04 (0,88-1,19) dan termasuk dalam kelas kuat dan awet 1 (high class). Kelebihan kayu ulin juga terdapat dari ketahanannya terhadap perubahan suhu, kelembaban dan pengaruh air laut.

Tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m dpl. Pohon kayu ulin berbuah sepanjang tahun pada sekitar bulan Juli sampai Oktober. Buah ulin merupakan buah batu, berbentuk bulat lonjong dengan diameter 5-10 cm dan panjang 10-20 cm. Buah muda berwarna hijau dan sudah tua berwarna coklat setelah buah masak. Daging buah akan lepas dari biji melalui proses pembusukan selama ±1-2 bulan. Biji berwarna putih gading dengan kulit biji yang keras setebal 1-2 mm.

Telah ditemukan 4 (empat) varietas Pohon kayu ulin di Kalimantan yang dibedakan berdasarkan kegunaan dan warna batang yaitu :

  1. Ulin Tando dengan warna batang coklat kemerahan
  2. Ulin Lilin dengan batang coklat gelap
  3. Ulin Tembaga dengan warna batang kekuningan
  4. Ulin Kapur dengan warna batang coklat muda.

Kayu ulin tando, lilin dan tembaga biasanya digunakan untuk pondasi bangunan dan lantai. Kayu ulin kapur merupakan satu-satunya ulin yang mudah dibelah sehingga cocok untuk bahan baku atap sirap.

Berbagai keistimewaan dari kayu ulin yang mendapat julukan sebagai kayu besi, salah satunya karena ia memiliki nilai ekonomi yang tergolong cukup baik, bahkan bisa dibilang tinggi. Banyak orang yang lebih memilih kayu jenis ini sebagai bahan konstruksi dalam pembangunan. Khususnya di kalangan masyarakat Kalimantan, kayu ini digunakan sebagai bahan konstruksi utama dalam membangun rumah mereka yaitu rumah panggung. Konstruksi dari rumah panggung ini sendiri juga tidak terlepas dari kondisi geografisnya, yaitu daerah pemukiman yang berada di tepi sungai. Selain itu, karena bangunan tersebut merupakan ciri khas sebagai rumah adat daerah di Kalimantan.

Pohon ulin memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan, yang dipercaya oleh masyarakat adat Suku Dayak di Kalimantan. Beberapa manfaat tersebut antara lain bisa memperlambat tumbuhnya uban/menghitamkan rambut, muntah darah, dan gangguan ginjal. Berdasarkan hasil penelitian secara ilmiah ternyata daun, biji dan buah ulin mengandung beberapa senyawa fitokimia, seperti flavonoid, saponin, tannin dan sterolterpenoid.

Saat ini keberadaan tanaman kayu ulin di hutan alam sebagai habitat aslinya sudah sulit ditemui atau hampir punah. Hal ini disebabkan semakin tingginya permintaan kebutuhan masyarakat dalam penggunaan  kayu termasuk jenis kayu ulin.

Sedangkan upaya pengembangan budidaya jenis tanaman kayu ulin belum ada. Hal ini disebabkan karena tingkat pengetahuan masyarakat tentang budidaya tanaman jenis kayu-kayuan masih rendah. Secara umum pertumbuhan dan riap tumbuh jenis dari kayu ulin relatif sangat kecil, inilah yang membuat masyarakat kurang berminat untuk mengembangkan dalam usaha budidaya. Sementara permintaan pasar terhadap kayu ulin sangat tinggi, tetapi ketersediaan kayu jenis ini di pasaran semakin berkurang, sehingga harga kayu ulin saat ini dipasaran terbilang mahal.

Hal tersebut cukup memberi peluang besar untuk upaya pengembangan jenis tanaman kayu ulin ke depannya, selain untuk melestarikan jenis tanaman kayu ulin juga untuk memenuhi kebutuhan kayu ulin generasi mendatang.

Pengembangan pembibitan kayu ulin ini telah dilakukan oleh Kelompok Tani (KTH) Kanaan Desa Mangkupum yaitu Bapak Isyayar sebagai ketua KTH telah melakukan pembibitan tanaman kehutanan dan bpk Herbolen membuat pembibitan  kayu ulin secara swadaya sebagai upaya pelestarian tanaman kayu ulin agar tidak punah dan tetap lestari. Sementara untuk benih/biji kayu ulin diperoleh dari pohon induk yang ada di lahan/kebun milik bapak Herbolen salah seorang warga Desa Mangkupum yang dipelihara dan dijaga sejak dulu.

Upaya pelestarian tanaman kayu ulin seperti ini perlu didukung sepenuhnya oleh semua pihak baik instansi pemerintah maupun pihak swasta dan masyarakat pada umumnya, untuk saling bekerjasama mewujudkan upaya kelestarian jenis-jenis flora khususnya jenis yang terancam punah seperti pohon kayu ulin supaya tetap terjaga dan lestari. Ayoo.. menanam demi masa depan kita, dan demi anak cucu kita….  Sesuai dengan Perda Gubernur Kalsel No.7 Tahun 2018 tentang revolusi hijau Ayoo bergerak dan terus menanam…. supaya hutan kita tetap terjaga dan lestari.  (Warlian, SST, Penyuluh Kehutanan Muda, KPH Tabalong)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here