MERANTI, EMAS HIJAU PULAU LAUT

0
55

Meranti merupakan jenis tanaman dataran rendah dengan nilai ekonomi yang tinggi saat ini keberadaanya mulai jarang ditemukan. Salah satu upaya untuk melestarikan jenis-jenis dipterocarpaceae adalah melalui Pembangunan Model Unit Manajemen Hutan Meranti (PMUMHM) yang merupakan titik awal dari sebuah road map Unit Manajemen Hutan Meranti  yang memenuhi kriteria pengelolaah hutan alam produksi lestari dengan membangun 3 dimensi yaitu: dimensi kelestarian fungsi produksi, fungsi ekologi dan fungsi sosial. Seiring dengan berjalannya waktu area PMUMHM difokuskan hanya pada fungsi ekologi yaitu kelestarian jenis meranti. Sumber dana pembangunan hutan meranti berasal dari dana APBN melalui DIPA Kementerian Kehutanan yang dalam pelaksanannya melibatkan beberapa perguruan tinggi di Indonesia dengan semangat untuk mengembalikan populasi meranti sebagai tumbuhan endemik Pulau Kalimantan.Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 10185/Kpts-II/2002 tanggal 19 Nopember 2002, Program Pembangunan Model Unit Manajemen Hutan Meranti (PMUMHM) dilaksanakan oleh PT. Inhutani II dengan luas areal ± 15.000 Ha yang terletak di kawasan hutan produksi pada sebagian areal kerja PT. INHUTANI II yang pada awalnya bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), dimana semua asset dan tanaman secara berkala dilaksanakan pemeliharaan. Pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 Kegiatan Penanaman dilaksanakan di Jalan Alur C kilometer 27 sampai dengan kilometer 35 dari luas areal ±15.000 ha telah dilaksanakan penanaman seluas 3.718,38 ha dengan jenis tanaman meranti Shore Ovalis dan Shorea Leprosula. Setelah dilakukan inventarisasi potensi tegakan dikawasan PMUMHM Dengan Sistem Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) diperoleh data potensi rata-rata volume per ha adalah sebesar 52, 02 m2.

Penyebab utama rendahnya persentasi tumbuh tanaman meranti pada areal PMUMHM adalah diakibatkan oleh terjadinya kebakaran hutan, illegal logging dan hama penyakit.

Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Operasional Barang Milik Negara (BMN) Aset Pembangunan Model Unit Manajemen Hutan Meranti (PMUMHM) di Kabupaten Kotabaru-Kalimantan Selatan Nomor:BA.03/DHP/TU/HPL.1/1/208 dan Nomor 522/70/BA/Dishut/2018 Pada bulan januari 2018 Areal PMUMHM diserahkan pengelolaanya kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. IB Putera Parthama dan diterima langsung oleh Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan H. Sahbirin Noor. Kemudian Areal PMUMHM akan diserahkan pengelolaannya kepada Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (KPH Pulau Sebuku).Pembangunan Model Unit Manajemen Hutan Meranti (PMUMHM) diharapkan bisa menjadi model manajemen hutan meranti yang memenuhi kriteria PHAPL (Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari) yang sekaligus menjadi embrio Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP). Dengan demikian dari model ini akan diperoleh manfaat:

  1. Terbangunnya sebuah basis pengetahuan (Knowladge base) yang mampu menyediakan referensi yang diperlukan untuk pengembangan unit manajemen hutan lainnya dalam skala lebih luas dalam konteks pembangunan KPHP
  2. Dari proses pembangunan akan diperoleh input bagi penyempurnaan kriteria dan indikator PHAPL yang telah ada
  3. Sebagai model penyelengaraan kegiatan pembangunan hutan yang dibiayai oleh dana pemerintah.
  4. Upaya konservasi terhadap dipterocarpaceae khususnya jenis meranti (Shorea Sp)

Kawasan PMUMHM kedepan juga berpotensi untuk dikembangkan menjadi wahana edukasi dan wisata alam dimana dikawasan ini merupakan satu-satunya hutan tropis dataran rendah dengan jenis dominan meranti.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here