KOTABARU – KPH Pulau Laut Sebuku bikin terobosan. Rencananya, untuk mengatasi kelangkaan sekaligus pelestarian jenis pohon Meranti, akan dibangun Dipterocetum.

Rencana itu diungkapkan Kepala KPH Pulau Laut Sebuku, Dewi Wulan Sari, Jumat (27/9). “Ini upaya untuk mengatasi langkanya meranti dengan melakukan pelestarian jenis,” katanya.

Selain pembangunan Dipterocetum, juga  dilakukan kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dengan penamanan meranti seluas 895 hektare, dan  kegiatan silvikultur intensif seluas 250 hektare.

Pembangunan Dipterocetum, jelasnya,  diperlukan dalam rangka pengayaan jenis-jenis meranti di wilayah Pulau Laut.  Diharapkan, dengan adanya  fasilitas ini,  keanekaragaman jenis meranti di Pulau Laut yang sudah menurun, khususnya di lokasi Pembangunan Model Unit Manajemen Hutan Meranti (PMUMHM),  bisa tetap terjaga kelestariannya.

Dipterocetum sendiri merupakan istilah yang dipakai untuk koleksi tanaman kayu dari famili Dipterocarpacea yang didalamnya juga termasuk jenis-jenis Meranti (Shorea_ sp).

Dewi memaparkan, populasi tumbuhan kayu meranti di daerah ini sudah mendekati kepunahan. Spesies dari famili Dipterocarpaceae masuk dalam penetapan spesies prioritas konservasi Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI). Meranti bersama tumbuhan lain dalam famili sejenis seperti kayu kapur, keruing dan bengkirai menjadi spesies yang paling banyak dimanfaatkan manusia. Eksplorasi besar-besaran terhadap tumbuhan ini membuat populasinya berkurang.

“Di tahun 1990-an, Pulau Laut merupakan salah satu penghasil  meranti terkenal di Indonesia, bahkan diekspor ke beberapa negara di Eropa dan Asia. Seiring perjalanan waktu, kayu meranti terus mulai berkurang,” ujarnya.

Ia juga membeberkan. Salah satu yang menjadi fokus dan perhatian bersama,  jenis-jenis meranti yang tersisa di Pulau Laut sangat terbatas. Hanya pada jenis Shorea Leprosula dan Shorea Johorensis. Sedangkan jenis lainnya mulai jarang ditemukan.

“Kondisi ini mengharuskan pembangunan dan pengayaan jenis-jenis meranti yang lain,  sehingga keanekaragaman jenis meranti tetap terjaga,” katanya.

Saat ini, lanjut dia, sedang dilaksanakan tahapan persiapan berupa  tracking area atau penataan areal untuk pembangunan Dipterocetum seluas 10 hektare. Lokasinya  di kawasan PMUMHM alur C Km 31.

Koleksi jenis dipterocarpacea yang akan ditanam  di areal tersebut baru tersedia 9 jenis.  Antara  lain Shorea leprosula, Shorea johorensis, Shorea belabgeran, Dipterocarpus, Driobalanop Aronatica, dan Tengkawang.

Ke depan, paparnya, koleksi tanaman  akan terus ditambah untuk memperkaya jenis 2 dipterocarpaceae di wilayah KPH Pulau Laut Sebuku.  Diharapkan,  Dipterocetum akan menjadi musium hidup,serta wahana wisata alam dan tempat penelitian dan pengembangan dipterocarpacea. (irt/kphpls)

Museum Meranti Segera Dibangun - 2
Museum Meranti Segera Dibangun – 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here