POLISI HUTAN (Polhut), belum lama tadi, mengungkap praktik pertambangan tanpa izin di kawasan hutan di Tabalong, Kalimantan Selatan. Sejumlah barang bukti, seperti generator listrik, pompa air, dan alat berat disita. Aparat dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) setempat juga sudah mengantongi nama para pelaku illegal mining ini. Temuan itu kini diproses secara hukum.

Gebrakan yang dilakukan Polhut KPH Tabalong pantas mendapat apresiasi. Keberanian dan ketegasan mereka di lapangan untuk mengamankan kawasan hutan, patut diacungi jempol.

Pengungkapan kasus itu hanya salah satunya. Banyak yang telah dilakukan polhut di Kalsel. Menggagalkan praktik penebangan liar. Menghentikan perburuan hewan dan tanaman langka. Mengatasi penyerobotan kawasan hutan untuk berbagai kepentingan. Dan lain-lain.

Polhut bukanlah polisi seperti lazimnya dikenal orang. Mereka juga bukan tentara, meski seragamnya mirip. Berwarna hijau. Polhut adalah kaum sipil yang dilatih menyerupai aparat keamanan. Dilatih kesamaptaan, sedikit berbau militer. Mereka juga dipersenjatai.

Polhut tidaklah sepopuler polisi dan tentara. Mereka kebanyakan hanya dikenal oleh masyarakat di sekitar dan kawasan hutan. Di desa-desa yang jauh dari keramaian. Orang kota, jarang yang mengetahui keberadaannya.

Polhut memang sebagian besar waktunya “kelayapan” (baca: patroli) di kawasan hutan. Terpencil, jauh dari keramaian. Tugas utama mereka mengamankan dan melindungi segala yang terkait dengan hutan dan keanekaragaman hayatinya. Ada pula bertugas di bandara dan pelabuhan. Mereka mengawasi peredaran tumbuhan dan satwa yang dilindungi undang-undang.

Sungguh berat beban yang dipikul korps yang dulu dikenal dengan nama Jaga Wana ini. Para “Penjaga Hutan”. Mereka adalah garda terdepan pelindung rimba .

Risiko yang dihadapi, tentu sangat tinggi. Nyawa mereka dipertaruhkan dalam bertugas. Karena yang dihadapi para oknum-oknum yang berusaha mengeksploitasi dan merusak kelestarian hutan dengan melanggar aturan hukum.

Di Kalsel, berdasarkan data tahun 2018, personel Polhut hanya sebanyak 120 orang. Jumlah ini sungguh tak ideal. Sementara luas kawasan hutan di Banua 1,7 juta hektare.

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq pernah mengasumsikan jumlah ideal tenaga Polhut di provinsi ini setidaknya 300 orang. Dengan rasio setiap 5.000 hektare kawasan hutan dijaga oleh satu Polhut. Lebih dari itu, semakin baik.

Penambahan personel Polhut tentu harus didukung. Percuma jika komitmen kuat untuk melestarikan kawasan hutan, tidak diimbangi dengan jumlah penjaga yang sepadan.

Beruntunglah, Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor punya perhatian serius terhadap kelestarian kuat. Ia dalam beberapa kesempatan menyatakan komitmen untuk menambah para penjaga hutan di bumi Lambung Mangkurat ini. Secara bertahap.

Ke depan, para penjaga hutan ini tak hanya ditambah, juga harus diistimewakan. Mereka sebenarnya adalah “pasukan” elite. Tak kalah dengan korps seperti Densus 88 Antiteroris, Kopasus, atau Marinir. Sama-sama punya bidang khusus dan strategis, dan tanggung jawab yang besar. *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here