Gerakan Revolusi Hijau yang dicanangkan Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor dan digawangi oleh Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Selatan, Hanif Faisol Nurofiq akan menjadi role model kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di seluruh Indonesia. Gerakan ini telah mendapat apresiasi dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDASHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai icon RHL se-Indonesia. Statement ini dikemukakan oleh Direktur Perbenihan Tanaman Hutan (PTH), Mintarjo saat membuka Lokakarya Nasional Pengembangan Tanaman Unggulan Lokal Dalam Mendukung RHL di Rumpin Source Seed and Nursery Center (RSSNC) Bogor, Jumat (03/05).

Lebih lanjut ia mengatakan “RHL sangat penting untuk merehabilitasi lahan kritis disamping dapat menjadi peluang usaha dan sumber kemakmuran baru dengan bermodalkan kawasan hutan yang luas, tanah yang subur dan penduduknya yang banyak”, tuturnya. Ia menambahkan, dengan menggunakan Hasil Hutan Kayu (HHK) dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) unggulan yang dipetakan sesuai tempat tumbuh, dapat menjadi kluster tanaman unggulan yang terintegrasi dengan industri dan pasar. “Tujuannya membangun kembali kejayaan kehutanan”, imbuhnya.

Yang membanggakan, dalam lokakarya nasional ini Kadishut Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq didaulat menjadi pembicara mengenai potensi dan pengembangan tanaman unggulan lokal Kalsel, selain narasumber lain yaitu Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Direktur Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi, Direktur Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung, Direktur Konservasi Tanah dan Air, Kepala Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman, Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) disamping Direktur PTH sendiri.

Dalam paparannya, Hanif kemukakan langkah-langkah strategis yang dilakukan Dishut Kalsel dalam mendukung gerakan revolusi hijau, salah satunya melalui rehabilitasi DAS yang dilaksanakan oleh pemegang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH). “Semenjak Revolusi Hijau digaungkan di awal Tahun 2017, penanganan lahan kritis di Kalsel dengan berbagai kegiatan penanaman pada Tahun 2017 mencapai 16.188 Ha dan semakin meningkat pada Tahun 2018 yang mencapai seluas 29.591 hektare, meningkat signifikan dibanding capaian periode 2012-2016 sebelum revolusi hijau digelorakan yang hanya berkisar kurang dari 2.000 hektare”, terangnya.

Diketahui, Gerakan Revolusi Hijau targetkan kurangi lahan kritis seluas 32.000 hektare di tahun 2019 dan akan terus meningkat di tahun berikutnya. Berbagai upaya dilakukan Pemprov. Kalsel untuk penuhi ini, diantaranya dengan dukungan regulasi, kelembagaan dan rencana aksi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here