Sereh Wangi kini mulai moncer. Tanaman jenis rumput, yang sehari-hari dikenal dengan nama Serai (Sarai-dalam bahasa Banjar), rupanya bernilai ekonomis cukup tinggi. Ekstraksi atau hasil penyulingannya menghasilkan minyak atsiri. Yang nilai jualnya menggiurkan.

Di Kalsel, Serai Wangi sekarang mulai dikembangkan. Sejak akhir 2018 lalu. Rempah idola ibu-ibu rumah tangga ini mulai dibudidayakan. Menariknya, ditanam berpadu dengan Program Agroforestry Dinas Kehutanan Kalsel. Tumbuh di sela-sela pohon Sengon.

Budidaya tanaman ini dilakukan oleh 6 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Kalsel. KPH Pulau Laut Sebuku dan Cantung di Kabupaten Kotabaru. KPH Kusan di Kabupaten Tanah Bumbu, KPH Tanah Laut di Kabupaten Tanah Laut, KPH Kayu Tangi di Kabupaten Banjar dan KPH Tabalong di Kabupaten Tabalong. Luas tanam masing-masing 5 hektare.

Setiap KPH memberdayakan masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Mereka terorganisir melalui Kelompok Tani Hutan (KTH). Mengelola tanaman agroforestry, sekaligus menggarap Sereh Wangi di sela-selanya. Satu kali dayung, dua pulau terlewati.

Sabtu (22/6) lalu, di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Pulau Laut Tengah, Kabupaten Kotabaru, KTH Jambangan Sari melakukan panen perdana Sereh Wangi. Selanjutnya diolah dalam alat penyulingan untuk dibuat bahan minyak atsiri.

Kemana menjual produk Sereh Wangi ini? Petani hutan tak khawatir. Untuk mendukung pemasarannya, Dinas Kehutanan Kalsel telah bekerja sama dengan PT Pemalang Agro Wangi. Perusahaan ini telah menandatangani MoU untuk membeli hasil produksi minyak atsiri dari Banua.

Kalkulasi sederhananya, seperti diungkapkan Kadishut Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq, nilai ekonomis setiap 4 hektare Sereh Wangi, menghasilkan keuntungan bersih Rp 15 juta per bulan. Angka yang cukup menjanjikan.

Apa yang dilakukan Dinas Kehutanan Kalsel ini, patut diapresiasi. Simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) melalui program agroforestry, ternyata sangat positif. Lahan kritis menghijau dengan terjaganya tajuk pohon, para petani hutannya pun punya harapan cerah. Pendapatan dan kesejahteraan mereka meningkat.

Sisi lain, keberhasilan budidaya Sereh Wangi, membuktikan bahwa produk hasil hutan bukan kayu (HH BK) bukan fatamorgana. Teorinya aduhai, namun kenyataannya absurd. Dishut Kalsel telah membuktikan mengurangi ketergantungan masyarakat dengan hasil hutan kayu (HHK) bisa dilakukan. Tidak dengan cara preventif, tapi persuasif. Berdayakan masyarakat di sekitar dan di dalam hutan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here