SUMBER BENIH UNTUK KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN

0
67
Sumber benih jenis gaharu alam diameter 50cm dan 80cm terletak di desa Banua Lawas Kec. Kelumpang Hulu KPH Cantung Kabupaten Kotabaru

Pembangunan kehutanan saat ini sudah berkembang pesat, kebutuhan terhadap kayu tidak saja dipenuhi oleh hutan alam tetapi sudah berkembang kepada hutan tanaman. Pada hutan tanaman, kepastian kualitas produk (produktivitas tinggi, seragam, dll) yang akan dihasilkan nantinya merupakan faktor penting. Hal tersebut bisa dicapai melalui teknik-teknik silvikultur yang tepat, salah satunya adalah penggunaan benih unggul. Penggunaan benih unggul sangat penting dalam meningkatkan produktivitas sehingga memperpendek waktu panen tanaman.

Saat ini kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan juga tidak bisa dilakukan sembarangan, dengan laju kerusakan lahan di Indonesia yang mencapai 3,5 juta Ha per tahun, keberhasilan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan sangat dituntut. Oleh karenanya, penggunaan benih unggul pada rehabilitasi hutan dan lahan mutlak diperlukan.

Di dalam Permenhut No. P.01/Menhut-II/2009 dijelaskan bahwa sumber Benih adalah suatu tegakan di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan yang dikelola guna memproduksi benih berkualitas. Benih yang unggul secara genetik hanya bisa diperoleh dari pohon-pohon induk yang memiliki asal-usul yang jelas dengan fenotip di atas rata-rata.

Anakan dari sumber benih gaharu di desa Banua Lawas Kec. Kelumpang Hulu KPH Cantung Kabupaten Kotabaru

Dalam pembangunan sumber benih diperlukan pengembangan sumber benih unggulan lokal karena jenis unggulan lokal disenangi oleh masyarakat dan sudah terbukti dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat yang secara ekologi lebih baik, serta sudah mempunyai pasar. Dengan tersedianya sumber benih jenis unggulan lokal maka harga benih relatif lebih murah dan masyarakat akan lebih mudah mendapatkannya. Selain itu pembangunan sumber benih unggulan lokal juga merupakan salah satu upaya tindakan konservasi in-situ dan ex-situ dari jenis-jenis tanaman hutan.  Dalam usaha pelestarian keanekaragaman hayati maka dilakukan konservasi Insitu dan Eksitu.

Konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia telah diatur dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya dan UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, berdasarkan atas tiga asas yaitu tanggung jawab, berkelanjutan, dan bermanfaat.

  1. Konservasi Insitu 

Konservasi insitu merupakan konservasi tempat atau konservasi sumber daya genetik dalam populasi alami tumbuhan atau satwa, misalnya sumber daya genetik hutan dalam populasi alami spesies pohon. Hal ini merupakan proses dalam melindungi spesies tanaman atau hewan yang terancam punah di habitat aslinya, atau predator. Cara konservasi In situ adalah dengan mendirikan cagar alam, taman nasional, dan suaka marga satwa.

2.Konservasi Eksitu

Konservasi Eksitu merupakan konservasi yang melindungi spesies tumbuhan dan hewan langka dengan mengambil dari habitat yang tidak aman atau terancam dengan ditempatkan ke perlindungan manusia. Cara konservasi Eksitu adalah dengan mendirikan taman safari, kebun binatang, kebun raya, dan kebun koleksi.

secara terminologi sumber benih merupakan tempat dimana koleksi benih atau propagul dilakukan sehingga sumber benih dapat merupakan tegakan di dalam kawasan dan di luar kawasan hutan yang dikelola guna memproduksi benih berkualitas atau pada plot yang ditujukan sebagai sumber benih. Sumber benih dapat ditunjuk dan dibangun sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku terkait dengan pengetahuan tentang sumber benih.  Perbedaan potensi genetik yang dimiliki diantara sumber benih yang berbeda, seringkali sangat besar dan hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan dan kualitas tegakan yang dihasilkan dalam program pembangunan hutan tanaman. Kualitas sumber benih tersebut juga akan berpengaruh terhadap harga benih sehingga menjadi lebih mahal. (Saidil Fathani, SP)

Referensi

Anonim. 2004. Petunjuk Teknis Pembangunan dan Pengelolaan Sumber Benih. Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan. Direktorat Jenderal Rehabilitasi dan Perhutanan Sosial. Departemen Kehutanan. Jakarta

Leksono, B. 2004. Program Dan Strategi Pemuliaan Acacia Dan Eucalyptus di P3BPTH. Makalah Pertemuan Teknis JKPPH di Jogjakarta tanggal 26-27 Januari 2004.

Finkeldey, R. 2005. Pengantar Genetika Hutan. Terjemahan oleh Edje Djamhuri, Iskandar Z. Siregar, Ulfah. J. Siregar dan Arti W. Kertadikara. ASEAN-EU University Network Programme (AUNP). Fakultas Kehutanan IPB. Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here